Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Alasan Pemerintah Mengganti Kurikulum lama dengan Kurikulum Merdeka

Alasan Pemerintah Mengganti Kurikulum lama dengan Kurikulum Merdeka


Pendidik.id Minggu lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, & Teknologi meluncurkan kebijakan kurikulum sebagai program Merdeka Belajar episode ke-15. Mulai tahun ajaran 2022/2023, sekolah dan madrasah mempunyai opsi untuk memakai kerangka kurikulum baru, yakni Kurikulum Merdeka, sebagai acuan buat menyebarkan kurikulum tingkat satuan pendidikannya.

Perubahan kurikulum nasional selalu menarik perhatian publik. Respons positif terhadap Kurikulum Merdeka umumnya datang berdasarkan para pelajar & orangtua yang merasa beban kurikulum sebelum ini terlalu berat.

Namun, terdapat jua kalangan yang memandang kebijakan ini dengan skeptis. Perubahan kurikulum pada tingkat nasional memang menuntut poly penyesuaian pada lapangan. Apakah dampaknya akan sepadan dengan upaya yang harus dilakukan?

Skeptisisme sebagian warga terhadap perubahan kurikulum bukan tanpa dasar. Dalam 2 puluh tahun terakhir, Indonesia sudah 3 kali mengganti kurikulum nasional, yaitu dalam 2004, 2006, & 2013. Kurikulum Merdeka akan sebagai pergantian keempat saat dalam 2024 nanti ditetapkan sebagai kurikulum nasional.

Bagaimana potret kualitas pendidikan kita pada kurun ketika itu? Sayangnya, kita harus mengakui bahwa kualitas pendidikan di Indonesia stagnan pada tingkat yg rendah.

Data berdasarkan studi IFLS yg dianalisis Amanda Beatty dan peneliti RISE memperlihatkan, selama kurun saat 2000-2014, penguasaan matematika dasar siswa SD, SMP, dan SMA pada Indonesia cenderung menurun. Sebagai gambaran, pada 2014, hanya lebih kurang 67 persen anak didik kelas 3 yang sanggup menjawab pertanyaan matematika buat kelas 1.

Kurikulum Merdeka akan menjadi pergantian keempat saat dalam 2024 nanti ditetapkan sebagai kurikulum nasional.

Potret serupa terlihat menurut PISA, studi internasional yang dilakukan setiap tiga tahun buat mengukur dominasi literasi membaca, matematika, dan sains murid berusia 15 tahun. Indonesia rutin mengikuti PISA sejak tahun 2000 hingga terakhir dalam 2018. Dalam kurun saat tadi, skor homogen-rata Indonesia nir bergerak dari lebih kurang nomor 370 sampai 400-an.

Dengan skor tersebut, hanya sekitar 30 persen anak didik kelas 9-10 di Indonesia yg memiliki kecakapan minimum pada hal tahu bacaan dan bernalar secara matematika.

Dengan istilah lain, sesungguhnya Indonesia sudah lama mengalami krisis belajar. Learning loss yang diakibatkan pandemi tentu memperparah krisis tersebut. Yang terutama perlu diantisipasi merupakan melebarnya kesenjangan lantaran pandemi mengakibatkan learning loss yg lebih akbar pada siswa dari keluarga miskin dan yg tinggal pada wilayah-wilayah yang terbatas akses internetnya.


Bagian berdasarkan perubahan sistemik

Krisis belajar merupakan duduk perkara multidimensi yang tidak bisa dipecahkan hanya menggunakan perubahan kurikulum. Krisis belajar hanya dapat diatasi oleh perubahan yang sistemik. Dan itulah yang sekarang dilakukan Kemendikbudristek melalui rangkaian kebijakan Merdeka Belajar-nya.

Melalui Asesmen Nasional, sistem penjaminan mutu diubah supaya nir lagi berorientasi dalam kepatuhan administratif, melainkan dalam kualitas pembelajaran. Dinas pendidikan akan mendapat pendampingan supaya dapat melakukan perencanaan berbasis data tentang kualitas pembelajaran.

Kapasitas pengajar dan kepala sekolah pula dikuatkan melalui aneka macam acara: Pengajar Penggerak, Organisasi Penggerak, Sekolah Penggerak, dan SMK Pusat Keunggulan.

Melengkapi aneka macam program tersebut, kurikulum pula berperan penting. Kurikulum memengaruhi apa yang diajarkan pengajar dan bagaimana materi itu diajarkan. Mungkin betul bahwa guru yg hebat mampu mengajar menggunakan baik, misalnya apa pun kualitas kurikulumnya. Tetapi, bila kita ingin agar semua pengajar mengajar menggunakan baik, kurikulum yang baik sebagai esensial.

Pentingnya kurikulum tampak jelas dari studi Pritchett dan Beatty yang terbit pada International Journal of Educational Development pada 2015. Menggunakan data menurut beberapa negara berkembang, Pritchett dan Beatty melakukan simulasi untuk melihat dampak cakupan materi kurikulum & output belajar anak didik. Simpulan mereka sangat kentara: materi kurikulum yang padat justru Mengganggu pembelajaran.

Krisis belajar hanya bisa diatasi oleh perubahan yang sistemik.

Di konteks Indonesia, studi yg kami lakukan bersama INOVASI selama pandemi juga mengarah pada simpulan yang sama. Pada awal pandemi, Kemendikbudristek melakukan penyederhanaan materi Kurikulum 2013. Selama tahun ajaran 2020/2021, ”kurikulum darurat” tersebut diadopsi lebih kurang 30 persen sekolah di Indonesia.

Sekolah-sekolah yang memakai kurikulum darurat ternyata memberitahuakn output belajar literasi & numerasi yang lebih baik dibandingkan dengan sekolah yang tetap menerapkan Kurikulum 2013 secara utuh. Penyederhanaan materi ini diperkirakan mampu mengatasi 70-80 % dari learning loss dampak pandemi. Ini jelas impak yang signifikan.

Alasan Kurikulum Merdeka

Dampak positif kurikulum darurat memperlihatkan pentingnya melakukan penyederhanaan materi. Ini sebenarnya bukan hal yg mengejutkan. apabila materi yg harus diajarkan terlalu banyak, strategi paling rasional bagi pengajar merupakan berceramah satu arah. Materi yg padat akan menciptakan pengajar kesulitan mengadakan kegiatan diskusi, berargumentasi, dan metode pembelajaran lain yg mendorong murid berbagi logika & karakternya.

Begitu jua menggunakan penggunaan asesmen diagnostik yang membantu pengajar menyesuaikan materi & taktik pembelajaran dengan taraf kemampuan anak didik. Pemberian umpan balik yg membantu anak didik memahami & mengoreksi kesalahan dan kesalahpahamannya juga sulit dilakukan waktu guru lebih menentukan kejar tayang menyelesaikan materi.

apabila kita ingin pengajar berfokus dalam pembelajaran murid, cakupan kurikulum harus dibatasi dalam materi yg memang esensial. Kedalaman proses mensyaratkan pengorbanan dalam keluasan materi. Inilah yang sebagai keliru satu prinsip primer perancangan Kurikulum Merdeka.

Dengan berfokus dalam materi esensial, Kurikulum Merdeka mampu memberi saat khusus bagi pembelajaran berbasis proyek. Ini adalah pembelajaran lintas mata pelajaran yg berorientasi dalam pembuatan karya atau pemecahan masalah konkret secara kolaboratif.

Contoh sederhananya, aktivitas membentuk lagu atau membuat drama, merencanakan bazar atau membuat produk, dan mengatasi kasus sampah di lingkungan rumah atau sekolah.

Pembelajaran semacam inilah yg bisa mengasah kepedulian sosial, menumbuhkan toleransi, melatih komunikasi & kerja sama. Pembelajaran seperti ini jugalah yang mendorong siswa buat menerapkan konsep/materi dari aneka macam mata pelajaran pada persoalan atau isu nyata.

Pendek istilah, Kurikulum Merdeka didesain buat memudahkan pengajar berfokus dalam pembelajaran.

Dengan demikian, siswa bisa merasakan relevansi ilmu pengetahuan buat kehidupan & tumbuh kecintaannya pada ilmu pengetahuan dan proses belajar itu sendiri. Pendek kata, Kurikulum Merdeka dirancang buat memudahkan pengajar serius pada pembelajaran. Dengan kurikulum ini, alih-alih berkejaran dengan waktu buat merampungkan materi, guru akan bisa memperhatikan apa yg sebagai jantung pendidikan: kualitas belajar yg dialami anak didik-muridnya.

Kurikulum Merdeka memang bukan magic bullet atau solusi sapu jagat. Namun, berpadu dengan acara-acara Merdeka Belajar lainnya, kami percaya bahwa Kurikulum Merdeka akan memantik transformasi sistemik yg kita perlukan buat mengatasi krisis belajar pada Indonesia.


Posting Komentar untuk "Alasan Pemerintah Mengganti Kurikulum lama dengan Kurikulum Merdeka"